Selasa, 06 April 2021

2021, Pengusaha Kos di Semarang Mulai Bersiap Terima Penghuni Lagi

Pandemi Covid-19 membuat banyak sektor usaha terdampak. Salah satu yang laing merasakan adalah bisnis kos dengan pasar mahasiswa, yang berada di sekitaran perguruan tinggi. Karena, kos jadi sepi, bahkan tidak jarang yang harus menyerah dan dijual.

Hal ini tidak bisa dihindari, karena memang adanya pemberlakukan pembelajaran jarak jauh alias online. Akibatnya, mahasiswa harus kuliah daring dari rumahnya masing – masing. Begitu pula yang dari luar daerah. Hal ini yang akhirnya membuat banyak pengusaha kos, seperti juga di Semarang harus kelimpungan.

Seperti dilansir dari Tribun Jateng, bahwa sejumlah pengusaha kos di Semarang pun merancang strategi diskon selama pandemi Covid-19, meskipun tidak semua.Salah satu yang memilih untuk tidak mendiskon harga sewa kosnya adalah Mustakim. Menurutnya harga sewa yang selamaini ditetapkan sudah sesuai dengan kebutuhan dari bisnis kosnya. 

"Tidak ada yang diskon. Kalau tidak ada yang menghuni ya sudah, enggak apa-apa. Karena harganya sudah sesuai dengan kebutuhan kos  itu sendiri. Daripada rugi, mending tidak didiskon," tegasnya.

Namun menurutnya, sejak awal 2021, sudah mulai ada beberapa orang yang menghubungi kosannya, karena berminuat untuk menghuni, walaupun memang masih sekedar bertanya atau melihat saja. Namun setidaknya dalam pandangan Mustakin hal ini menujukkan kondisi bisnis yang mulai membaik dibanding 2020.

"Alhamdulillah ini kondisinya mulai membaik. Walau belum begitu drastis, tapi sudah ada harapan," tutupnya.

Sedangkan pemilik kos lainnya di Tembalang Semarang,Wijaya, menyampaikan bahwa omzet rumah kosnya memang anjlok selama pandemi. Pembelajaran daring seketika, membuat penghuni kos memilih cabut dan pulang ke rumah masing – masing. 

"Rata-rata yang ngekos di tempat saya orang Jawa Barat. Sejak pandemi langsung drop. Bahkan warung makan yang biasanya ramai, juga ikut drop. Omzet terjun bebas. Ya sudah mau bagaimana lagi, memang kondisinya seperti ini," katanya.

Wijaya menyampaikan dalam satu bulan, normalnya bisnis kosnya bisa menghasilkan rata-rata Rp 20 juta. Namun pembelajaran daring di masa pandemi, membuat penghasilan dari indekos menukik tajam.

"Selama pembelajaran daring, penghuni kos sudah saya beri pilihan. Barang-barang mereka silahkan tetap ada di kos, namun hanya saya kenakan biaya sewa separuhnya aja. Kalau tidak mau, ya harus ikut dibawa pulang. Jadi yang bayar separuh itu nanti kalau sudah mulai kuliah lagi tidak perlu repot cari kos," tegasnya.